Senin, 08 April 2019

Apa Yang Saya Dapat Selama Menjadi Kader HMI?


Kalau ditanya, di HMI dapat apa? Dahulu ketika ditanya begitu, mungkin muter-muter dulu untuk menjawabnya. Sekarang, ya masih muter-muter juga. Tetapi, setidaknya sudah bisa merasakan manfaatnya. Kalau dulu, hanya sekedar dorongan dari para pengurus komisariat, sekarang lebih pada aktualisasi diri. Sederhananya, sekarang saya lebih "sadar" untuk ber-HMI. 

Kembali pada pertanyaan, di HMI saya dapat apa? Banyak hal yang saya pelajari selama menjadi kader HMI sejauh ini (praktis sudah kurang lebih 2 tahun menjadi kader HMI). Hari ini, saya bisa merasakan HMI adalah organisasi di mana tiap anggotanya boleh 'berbeda'. Berbeda pendapat, juga berbeda pilihan politik tentunya. Tapi dalam artian tetap memiliki argumentasi dan pijakan dalam setiap pandangan yang dimiliki. Maka, saya belajar menjadi individu yang berpikir. 

HMI merupakan organisasi independensi (Anggaran Dasar HMI Pasal 6). Jadi, HMI tidak berbeda di bawah naungan (underbow) instansi/organisasi manapun. HMI berdiri sendiri. Bahkan, meskipun memiliki komunitas alumni tersendiri, yaitu KAHMI. Namun secara organisatoris, KAHMI dan HMI merupakan dua entitas yang berbeda baik dari segi fungsi manapun wewenangnya. Jadi, HMI bebas bertindak mengikuti riak manapun. HMI bebas menentukan arah gerakannya sejauh sesuai dengan landasan organisasi (AD/ART). 

Saya tidak hanya akan mengagungkan HMI. Sebab, bukan berarti HMI sempurna dan bebas cacat. Sejak 1947, HMI menapaki perjalannya dengan dinamika yang sarat konflik. Bahkan, dalam tubuh HMI sendiri. Tetapi, bagi saya konflik di internal HMI menunjukkan HMI senantiasa mengalami dinamika menuju perubahan ke arah yang lebih baik. HMI itu dinamis. Justru ketika ada sesuatu yang kurang sesuai di tubuh HMI, dan tidak ada yang mengkritisi dan mengkoreksi, justru perlu dipertanyakan apakah sudah sedemikian acuh (tumpul terhadap dinamika yang ada) anggota himpunan terhadap tubuh HMI? 

Auto-kritik terhadap HMI perlu dilakukan. Kritik terhadap internal sendiri perlu dikemukakan. Kesalahan perlu diakui. Baru kemudian bisa dikoreksi dan dibenahi. Seburuk apapun wajah HMI saat ini, itu adalah gurat-coretan kita sebagai anggota dan kader HMI. Kejayaan HMI perlu dikembalikan, kualitas kader perlu ditingkatkan. Agar lahir kader-kader insan cita yang menjadi harapan bangsa. Bukankah kata Jenderal Soedirman HMI adalah Harapan Masyarakat Indonesia? 
Read More

Sabtu, 18 Maret 2017

Suratku Untuk Seorang Sahabat

Untuk Kamu--Seorang Sahabat Yang Telah Kusakiti Hatinya. 

Sabtu, 11 Maret 2017

Apa kabarmu? Apakah hari-harimu berjalan dengan baik? Adakah yang mengganggu suasana hatimu? Bagaimana dengan perasaanmu? Masihkah kamu menaruh hati pada si "H" itu? Maafkan aku yang tidak menanggapi ceritamu, curhatmu tentang dia. Padahal, saat itu kamu sangat butuh seorang pendengar (aku baru menyadari itu belakangan, setelah aku mengalami ha serupa, mungkin lebih parah. Ah, tapi anggaplah ini sebagai hukuman buatku, tulah dari ulahku terhadapmu)

Bagaimana kabarku? Yah.. kau bisa melihat aku baik-baik saja (setidaknya secara fisik). Tapi, siapa yang tahu apa yang ada dalam hati seseorang? Aku merindukanmu. Setiap hari. Itulah faktanya. Aku merindukan saat-saat kita berlari bersama (sekali lagi aku baru menyadari betapa penting dan berharganya waktu itu, ketika kini aku 'kehilangan'-mu). Aku merindukan saat aku masih bisa menginap di kamar kosmu (betapa asyiknya kalau setiap malam minggu kita bisa berbagi cerita bersama di sana, tertawa bersama, mendengar ceritamu, menonton drama korea kesukaan kau dan aku). Aku merindukan semua kenangan kita. Andai waktu dapat diputar kembali, andai teori relativitas Einstein menemukan ujungnya, sehingga aku (dan jutaan pecundang lain di muka bumi ini) bisa menyusuri waktu-waktu lampau untuk memperbaiki apa yang menurut kami harus diperbaiki. Jika itu mungkin terjadi, hal pertama yang akan aku lakukan adalah memperbaiki hubungan kita. Aku tidak akan menceritakan semua waktu itu. Aku tidak akan menorehkan luka di hatimu. Aku tidak akan membuatmu mengucapkan kalimat itukalimat yang sampai kini membekas di hatiku, perihnya kadang masih bisa kurasakan. Aku tidak akan membuatmu kehilangan kita. Jika malam itu aku bertindak benar, selepas menghadiri acara membaca Surah Yasin bersama itu aku hanya memilih berbaring lantas tidur, tanpa perlu memulai chatting denganmu. 

Tapi Tuhan benci kita berandai-andai. Ah, lagi pula ini semua tetap membawa hikmah buatku. Sekarang, aku memahami betapa berartinya kamu buatkumeski ketika semua sudah terlambat, kadaluarsa. 

Maafkan aku yang sempat mengatakan bahwa aku tak bisa menceritakan 'perihal'-ku padamu saat itu. Aku takut semua terbongkar saat itu. Sungguh, maafkan aku. Aku tak sadar itu membuatmu merasa tidak berarti bagiku. Sungguh, padahal tidak. Justru kini, aku sadari bahwa kamulah orang pertama yang aku anggap sebagai sahabat setelah aku sampai di kota inisekali lagi, setelah semuanya berlalu, aku harus tersenyum getir mengingat itu. 

Tahukah kamu, kamu adalah teman yang sangat aku sukai. Sangat, sangat aku sukai. Kamu sosok pribadi yang sangat luar biasa di mataku (aku sungguh kagum padamu, dan sangat menyukaimu, bahkan iri!). Karena itulah, seringkali aku cemburu kamu membawa orang lain ke kosmu, seakan dia merebut posisiku sebagai teman yang paling dekat denganmu saat itu. Kini, aku harus menelan getirnya kenyataan, kemudian tersenyum masam dan menahan diri setiap melihatmu bercakap akrab dengan teman barumu (yang aku kenalkan kepadamu itu, yang sekarang kamu anggap satu-satunya sahabatmu itu!). 

Tahukah kamu betapa sembilu mengiris hatiku ketika kamu mengatakan kalimat itu. Meluncur begitu mudah melalui logikamu. Ditransfer menuju tanganmu kemudian menjelma respon gerakan jemarimu mengetikkan kalimat itu melalui tuts-tuts pada layar ponselmu. Kemudian dibawa udara, berupa transmisi data, yang takkan bertubrukan dengan benda-benda di perjalanannya, sehingga tidak mungkin data itu akan berubah (meski aku berharap bisa berasumsi begitu). Sederhana saja kalimatmu itu. Intinya, kamu mengatakan agar aku tidak menganggap diriku penting buatmu. Adakah seseorang yang hatinya takkan terluka membaca pesan semacam itu dari seseorang yang telah dianggapnya sahabat dekat? Kalau ada, mungkin dia mewarisi kelembutan hati seorang malaikat!. 

Saat itu, kamu telah menusukkan seribu jarum berkarat ke dalam hatiku. Menghunjam dalam. Membuat sepersekian detik berikutnya dadaku terasa sesak. Sesak sekali, membuatku sulit bernapas selama beberapa lama. Kemudian terisak. Tahukah kamu, itulah tangisan pertamaku setelah aku berhasil tiba di sini, di kota ini? 

Setiap hari dalam hidupku kini kujalani dengan menimbun rindu, rindu yang aku tahu takkan tersampaikan kepadamu. Sesal tiada terkira telah menorehkan luka ke dalam hati baikmu itu. Sungguh, aku merasa beruntung, teramat merasa beruntung telah kau pilih sebagai sahabatmu. Setidaknya temanmu saat itu. Ribuan kali aku merindukannya sekarang. 

Kini, aku harus puas dan ikhlas melihatmu bercakap akrab dengan sahabat barumu, senang melihatmu baik-baik saja, tertawa riang. Apa yang bisa kulakukan sekarang hanya memanjat doa untukmu, agar selalu baik-baik saja, riang-ceria, dan tak lagi mengorek luka dan sakit yang kutorehkan. Serta menitip rindu pada pagi, pada malam, pada almamater kita, pada foto formal itu, pada kuesioner kakakmu beserta obat yang dibuatnya itu, pada studio foto, pada semangkuk mie instan di kamarmu, pada lingkungan kampus ini, juga pada penghujung hari di ujung cakrawala sana. Semoga mereka mampu membawa rindu dan sesalku yang tak berkesudahan ini. Meski sebenarnya aku takut juga apabila rindu yang kutitipkan itu membawa memorimu membuka kenangan akan sakit yang kutorehkan. Kau tahu, aku tak ingin membuatmu mengorek luka itu lagi. Aku tidak ingin kamu merasakan sakit itu lagi. Karena itulah, aku tak kuasa menyapamu ketika sudut mata ini menangkap sosokmu. Sebagian hatiku dengan egoisnya berharap suatu saatentah kapankamu akan mengetahui semua ini, semua yang aku pendam ini, semua kerinduan dan penyesalanku. Sehingga akhirnya memahami dan memaafkanku dengan hati yang lapang, tak mendendam, tak menyisahan bekas akibat lukanya. Meski aku tahu, mungkin itu akan membuatmu sesak dan sakit (lihatlah, betapa egoisnya aku!).

Mungkin esok lusa Tuhan akan membawa takdir kita bertemu. Saat itu, semoga aku bisa membayar dosaku dan kembali menjadi sahabatmu untuk yang kedua kali. Dan takkan kusia-siakan kesempatan itu. 


Akuyang telah menoreh luka untukmu. 
Read More

Kamis, 09 Maret 2017

Kisah Sahabat

GetirGamangBimbang 
(Ucapan Terima Kasih Untuk Seseorang^-^)

Terima kasih telah membuatku pernah merasakan indahnya saat-saat bersamamu. Sebentar memang, tapi rasanya akan selamanya teringat seperti baru kemarin sore. 

Terima kasih telah membuatku ingat bahwa harapan itu akan menjadi nyata di saat-saat yang tak terduga. 

Aku takkan melupakan saat itu. Saat aku sedang mengerutkan kening untuk mengerjakan tugas yang menumpuk. Dan kau, orang yang tak pernah membuatku berpikir bahwa aku adalah perempuan pertama yang kau ajak ke suatu tempat. Tapi, kau malah melakukannya. 

Kau menjemputku, tanpa ekspresi apapun. Dan tahukah kau, betapa hatiku nyaris meledak mengetahui kau benar-benar mengajakku. Aku? Hanya berdua denganmu? Aku merasa bagai seseorang yang paling beruntung di dunia. 

Dan perjalanan panjang yang kita tempuh tanpa kata membuatku semakin berdebar. Rasanya seperti sedang bermimpi. 

Tapi semua harus berakhir saat indah-indahnya ku rasa. 

Tetapi bagiku, ini perjalanan yang cukup panjang dan indah. Alasan mengapa aku hanya berkata 'iya' di sepanjang perjalanan bukan karena aku tak suka. Sungguh. Tetap karena aku masih tak mempercayai bahwa perjalanan ini nyata. 

Dan ketika hujan turun dengan rinainya yang deras, kau menanyakan bagaimana keadanku, seolah ini semua merupakan hal baru bagimu. Dan ya, itu memang hal baru bagimu. 

Aku masuk gerbang kedua, dari delapan. Dan kini, aku tahu kapan harus berhenti. Melihat apa yang akan kau lakukan ketika aku diam. Dan aku tahu jawabannya. 

Kau tidak mencariku. Kenyataan yang mengerikan. 

Dan kau menjauh dariku. Aku tahu kapan untuk berhenti. Aku tahu kapan untuk melihat bagaimana reaksimu dan berusaha menerimanya. 

Iya, terima kasih telah membuatku berjuang. Aku masih merindukanmu hingga sekarang. Tetapi aku tak tahu bagaimana aku akan bersikap jika kau datang kepadaku lagi. Karena tak mudah bagiku untuk melupakan sesuatu yang merupakan pertama kalinya dalam hidupku. 

Sesuatu yang baru kusadari saat dalam kesendirian adalah kamu tidak mempedulikan aku. Kamu tidak tahu bagaimana aku. Kamu tidak peduli sedang apakah diriku, sudah makankah atau belum, sedang merindumu atau tidak. Kamu tidak peduli. Tidak pernah. 

Kamu begitu ingin membuangku. 

Dan kamu memilih dia yang kamu tahu telah memiliki seseorang yang sangat ia cintai. Seseorang yang kamu tahu akan menyakitimu lebih dari siapa pun. Seseorang yang akan membuatmu merasakan sembilu. Bukankah kamu begitu bodoh? Begitu tolol? 

Dan aku tertawa. Menyadari betapa lebih bodoh dan tololnya aku karena menaruh harap di atas tanganmu yang mengharap tangannya. 

Aku tak tahu harus bagaimana. Melupakanmu? atau membencimu? atau menunggumu?. Aku bingung. 



Itu adalah petikan kisah sahabat yang sebenarnya berjudul Ucapan Terima Kasih Untuk Seseorang disertai smiley ^-^. Ia mengirimkannya melalui email kepadaku. Kami memiliki kisah yang tak jauh berbeda dalam satu konteks, dan sangat berbeda, dalam konteks yang lain. Namun, kami sama-sama dua orang yang mereguk indah sekaligus sakitnya cinta. Kini, kami harus memeluk erat semua kenangan itu. Menyenangkan, menyakitkan, semuanya. Kami harus merengkuh semua rasa sakit, tidak akan membenci, tidak akan mendendam. Karena inilah hidup kami. Bagian penting yang menjadi mozaik dalam hidup kami. Tanpanya, tak akan lengkap. Tak akan sempurna. 



Read More

About Me

Popular Posts

Designed ByBlogger Templates