Sabtu, 18 Maret 2017

Suratku Untuk Seorang Sahabat

Untuk Kamu--Seorang Sahabat Yang Telah Kusakiti Hatinya. 

Sabtu, 11 Maret 2017

Apa kabarmu? Apakah hari-harimu berjalan dengan baik? Adakah yang mengganggu suasana hatimu? Bagaimana dengan perasaanmu? Masihkah kamu menaruh hati pada si "H" itu? Maafkan aku yang tidak menanggapi ceritamu, curhatmu tentang dia. Padahal, saat itu kamu sangat butuh seorang pendengar (aku baru menyadari itu belakangan, setelah aku mengalami ha serupa, mungkin lebih parah. Ah, tapi anggaplah ini sebagai hukuman buatku, tulah dari ulahku terhadapmu)

Bagaimana kabarku? Yah.. kau bisa melihat aku baik-baik saja (setidaknya secara fisik). Tapi, siapa yang tahu apa yang ada dalam hati seseorang? Aku merindukanmu. Setiap hari. Itulah faktanya. Aku merindukan saat-saat kita berlari bersama (sekali lagi aku baru menyadari betapa penting dan berharganya waktu itu, ketika kini aku 'kehilangan'-mu). Aku merindukan saat aku masih bisa menginap di kamar kosmu (betapa asyiknya kalau setiap malam minggu kita bisa berbagi cerita bersama di sana, tertawa bersama, mendengar ceritamu, menonton drama korea kesukaan kau dan aku). Aku merindukan semua kenangan kita. Andai waktu dapat diputar kembali, andai teori relativitas Einstein menemukan ujungnya, sehingga aku (dan jutaan pecundang lain di muka bumi ini) bisa menyusuri waktu-waktu lampau untuk memperbaiki apa yang menurut kami harus diperbaiki. Jika itu mungkin terjadi, hal pertama yang akan aku lakukan adalah memperbaiki hubungan kita. Aku tidak akan menceritakan semua waktu itu. Aku tidak akan menorehkan luka di hatimu. Aku tidak akan membuatmu mengucapkan kalimat itukalimat yang sampai kini membekas di hatiku, perihnya kadang masih bisa kurasakan. Aku tidak akan membuatmu kehilangan kita. Jika malam itu aku bertindak benar, selepas menghadiri acara membaca Surah Yasin bersama itu aku hanya memilih berbaring lantas tidur, tanpa perlu memulai chatting denganmu. 

Tapi Tuhan benci kita berandai-andai. Ah, lagi pula ini semua tetap membawa hikmah buatku. Sekarang, aku memahami betapa berartinya kamu buatkumeski ketika semua sudah terlambat, kadaluarsa. 

Maafkan aku yang sempat mengatakan bahwa aku tak bisa menceritakan 'perihal'-ku padamu saat itu. Aku takut semua terbongkar saat itu. Sungguh, maafkan aku. Aku tak sadar itu membuatmu merasa tidak berarti bagiku. Sungguh, padahal tidak. Justru kini, aku sadari bahwa kamulah orang pertama yang aku anggap sebagai sahabat setelah aku sampai di kota inisekali lagi, setelah semuanya berlalu, aku harus tersenyum getir mengingat itu. 

Tahukah kamu, kamu adalah teman yang sangat aku sukai. Sangat, sangat aku sukai. Kamu sosok pribadi yang sangat luar biasa di mataku (aku sungguh kagum padamu, dan sangat menyukaimu, bahkan iri!). Karena itulah, seringkali aku cemburu kamu membawa orang lain ke kosmu, seakan dia merebut posisiku sebagai teman yang paling dekat denganmu saat itu. Kini, aku harus menelan getirnya kenyataan, kemudian tersenyum masam dan menahan diri setiap melihatmu bercakap akrab dengan teman barumu (yang aku kenalkan kepadamu itu, yang sekarang kamu anggap satu-satunya sahabatmu itu!). 

Tahukah kamu betapa sembilu mengiris hatiku ketika kamu mengatakan kalimat itu. Meluncur begitu mudah melalui logikamu. Ditransfer menuju tanganmu kemudian menjelma respon gerakan jemarimu mengetikkan kalimat itu melalui tuts-tuts pada layar ponselmu. Kemudian dibawa udara, berupa transmisi data, yang takkan bertubrukan dengan benda-benda di perjalanannya, sehingga tidak mungkin data itu akan berubah (meski aku berharap bisa berasumsi begitu). Sederhana saja kalimatmu itu. Intinya, kamu mengatakan agar aku tidak menganggap diriku penting buatmu. Adakah seseorang yang hatinya takkan terluka membaca pesan semacam itu dari seseorang yang telah dianggapnya sahabat dekat? Kalau ada, mungkin dia mewarisi kelembutan hati seorang malaikat!. 

Saat itu, kamu telah menusukkan seribu jarum berkarat ke dalam hatiku. Menghunjam dalam. Membuat sepersekian detik berikutnya dadaku terasa sesak. Sesak sekali, membuatku sulit bernapas selama beberapa lama. Kemudian terisak. Tahukah kamu, itulah tangisan pertamaku setelah aku berhasil tiba di sini, di kota ini? 

Setiap hari dalam hidupku kini kujalani dengan menimbun rindu, rindu yang aku tahu takkan tersampaikan kepadamu. Sesal tiada terkira telah menorehkan luka ke dalam hati baikmu itu. Sungguh, aku merasa beruntung, teramat merasa beruntung telah kau pilih sebagai sahabatmu. Setidaknya temanmu saat itu. Ribuan kali aku merindukannya sekarang. 

Kini, aku harus puas dan ikhlas melihatmu bercakap akrab dengan sahabat barumu, senang melihatmu baik-baik saja, tertawa riang. Apa yang bisa kulakukan sekarang hanya memanjat doa untukmu, agar selalu baik-baik saja, riang-ceria, dan tak lagi mengorek luka dan sakit yang kutorehkan. Serta menitip rindu pada pagi, pada malam, pada almamater kita, pada foto formal itu, pada kuesioner kakakmu beserta obat yang dibuatnya itu, pada studio foto, pada semangkuk mie instan di kamarmu, pada lingkungan kampus ini, juga pada penghujung hari di ujung cakrawala sana. Semoga mereka mampu membawa rindu dan sesalku yang tak berkesudahan ini. Meski sebenarnya aku takut juga apabila rindu yang kutitipkan itu membawa memorimu membuka kenangan akan sakit yang kutorehkan. Kau tahu, aku tak ingin membuatmu mengorek luka itu lagi. Aku tidak ingin kamu merasakan sakit itu lagi. Karena itulah, aku tak kuasa menyapamu ketika sudut mata ini menangkap sosokmu. Sebagian hatiku dengan egoisnya berharap suatu saatentah kapankamu akan mengetahui semua ini, semua yang aku pendam ini, semua kerinduan dan penyesalanku. Sehingga akhirnya memahami dan memaafkanku dengan hati yang lapang, tak mendendam, tak menyisahan bekas akibat lukanya. Meski aku tahu, mungkin itu akan membuatmu sesak dan sakit (lihatlah, betapa egoisnya aku!).

Mungkin esok lusa Tuhan akan membawa takdir kita bertemu. Saat itu, semoga aku bisa membayar dosaku dan kembali menjadi sahabatmu untuk yang kedua kali. Dan takkan kusia-siakan kesempatan itu. 


Akuyang telah menoreh luka untukmu. 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

About Me

Popular Posts

Designed ByBlogger Templates