Kalau ditanya, di HMI dapat apa? Dahulu ketika ditanya begitu, mungkin muter-muter dulu untuk menjawabnya. Sekarang, ya masih muter-muter juga. Tetapi, setidaknya sudah bisa merasakan manfaatnya. Kalau dulu, hanya sekedar dorongan dari para pengurus komisariat, sekarang lebih pada aktualisasi diri. Sederhananya, sekarang saya lebih "sadar" untuk ber-HMI.
Kembali pada pertanyaan, di HMI saya dapat apa? Banyak hal yang saya pelajari selama menjadi kader HMI sejauh ini (praktis sudah kurang lebih 2 tahun menjadi kader HMI). Hari ini, saya bisa merasakan HMI adalah organisasi di mana tiap anggotanya boleh 'berbeda'. Berbeda pendapat, juga berbeda pilihan politik tentunya. Tapi dalam artian tetap memiliki argumentasi dan pijakan dalam setiap pandangan yang dimiliki. Maka, saya belajar menjadi individu yang berpikir.
HMI merupakan organisasi independensi (Anggaran Dasar HMI Pasal 6). Jadi, HMI tidak berbeda di bawah naungan (underbow) instansi/organisasi manapun. HMI berdiri sendiri. Bahkan, meskipun memiliki komunitas alumni tersendiri, yaitu KAHMI. Namun secara organisatoris, KAHMI dan HMI merupakan dua entitas yang berbeda baik dari segi fungsi manapun wewenangnya. Jadi, HMI bebas bertindak mengikuti riak manapun. HMI bebas menentukan arah gerakannya sejauh sesuai dengan landasan organisasi (AD/ART).
Saya tidak hanya akan mengagungkan HMI. Sebab, bukan berarti HMI sempurna dan bebas cacat. Sejak 1947, HMI menapaki perjalannya dengan dinamika yang sarat konflik. Bahkan, dalam tubuh HMI sendiri. Tetapi, bagi saya konflik di internal HMI menunjukkan HMI senantiasa mengalami dinamika menuju perubahan ke arah yang lebih baik. HMI itu dinamis. Justru ketika ada sesuatu yang kurang sesuai di tubuh HMI, dan tidak ada yang mengkritisi dan mengkoreksi, justru perlu dipertanyakan apakah sudah sedemikian acuh (tumpul terhadap dinamika yang ada) anggota himpunan terhadap tubuh HMI?
Auto-kritik terhadap HMI perlu dilakukan. Kritik terhadap internal sendiri perlu dikemukakan. Kesalahan perlu diakui. Baru kemudian bisa dikoreksi dan dibenahi. Seburuk apapun wajah HMI saat ini, itu adalah gurat-coretan kita sebagai anggota dan kader HMI. Kejayaan HMI perlu dikembalikan, kualitas kader perlu ditingkatkan. Agar lahir kader-kader insan cita yang menjadi harapan bangsa. Bukankah kata Jenderal Soedirman HMI adalah Harapan Masyarakat Indonesia?